?

Log in

 
 
01 April 2013 @ 10:00 am
Ngefans itu... apasih?  
Beberapa waktu lalu pas gw lagi buka fb, ada gw liat status yang kurang lebih nulis kayak gini:

"Gw belum bisa dibilang sebagai fans xxx. Karena yang namanya fans itu berarti orang rela beli segala rilisan mereka."


(Ini cuma reka kata-kata kira-kira di statusnya sih. Gw juga lupa kalimat panjangnya bilang apa, kurang lebih kayak gitu. Dan juga sih, gw juga lupa siapa user yang nulis itu, ahaha)


Sejujurnya pas baca itu, ada satu rasa ketidaksetujuan yang muncul dalam pikiran gw. Fans? Harus beli rilisan artisnya? Gw rasa dia salah pengertian.

Pertama-tama, pengertian fans itu apa sih? Fans, atau tunggalnya dari kata fan, dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebagai penggemar, pengagum, ato pengidola. Ini dapat diartikan juga seseorang sebagai seorang fans, merupakan sosok yang menggemari, mengagumi atau mengidolakan sesuatu, baik itu artis, atlet, orang tua, guru, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dalam hal ini fans itu lebih ke arah bentuk suatu perasaan yang mendalam dalam menggemari, mengagumi atau mengidolakan sesuatu.

Apa fans itu hanya bisa dinilai secara materiil? Tentu tidak dong. Namanya juga perasaan, suatu wujud materiil belum mampu menentukan apakah seseorang itu menjadi seorang fans atau tidak. Apakah orang Jepang, yang datang ke toko kaset lalu menyukai suatu lagu lantas membeli CD mereka bisa dikatakan sebagai fans? Belum tentu! Lalu apa orang yang sangat menyukai sosok yang dianggapnya sebagai idola kemudian tidak pernah membeli CD artis kesukaannya tidak bisa dikatakan sebagai fans? Tidak juga.

Seperti yang gw katakan tadi, menggemari, mengidolakan atau mengagumi sesuatu itu suatu bentuk perasaan yang sama sekali tidak bisa dinilai secara materiil. Gw bisa mengatakan "Gw suka A!" tapi belum tentu gw merupakan fans mereka. Gw merasa gw adalah fans mereka ketika gw mulai mengalami ketertarikan untuk jangka waktu panjang, mulai menyelami satu persatu member—suatu idol grup misalnya—menyelami bagaimana karakter mereka, berusaha mengenal mereka lebih jauh dan berusaha mengikuti perkembangan mereka. Gw nggak bisa mengatakan gw adalah fans ketika gw mereka perasaan gw pada sesuatu yang membuat gw tertarik hanya sampai kata "Gw suka mereka."

Membeli apa yang dirilis oleh artis kesukaan kita itu pada dasarnya wujud bagaimana kita berusaha mendukung mereka. Tapi, yang namanya membeli itu tentunya harus didasarkan pada kemampuan finansial, bukan hanya karena ingin dianggap sebagai 'fans yang sesungguhnya'. Dengan harga rilisan Jepang yang luar biasa mahal apalagi ketika dibawa ke Indonesia alias dikirim, bukan hal yang tidak wajar sebagian besar fans yang ada di Indonesia—spesifiknya mungkin untuk yang di luar Jepang—mampu untuk membeli segala rilisan mereka. Ketika memiliki uang lebih, silakan. Tapi untuk yang tidak memiliki uang lebih atau memiliki prioritas lebih penting dalam urusan finansial mereka, apakah tidak bisa dikatakan sebagai fans? Tidak juga kan?
Buat gw sendiri, gw merasa diri gw sebagai fans ketika gw merasa perasaan gw pada suatu grup kesukaan gw itu sudah terasa menggebu-gebu. Tapi faktanya, gw teramat sangat jarang membeli rilisan mereka. Mau tau barang ori apa aja yang gw pernah beli? Cuma 1 album pertama HSJ, 1 album pertama Kisumai (versi Indonesia) dan uchiwa Inoo. Itupun karena pada dasarnya, saat itu gw sedang ada uang lebih untuk membeli. Lantas, apa karena gw cuma punya dikit, gw nggak bisa dikatakan fans? Masih banyak di luar sana yang bahkan nggak punya sama sekali barang ori, tapi tetap menyukai grup mereka masing-masing seperti gw menyukai grup kesukaan gw.

Ngefans itu memang bentuk perasaan yang nggak bisa dinilai secara materiil. Pernah satu hari, teman gw pergi ke Jepang. Gw awalnya berniat menitip single My Resistance yang kebetulan rilis saat ia ada di Jepang. Tapi faktanya? Gw batal memesan single tersebut dengan alasan: Percuma, cuma bakalan jadi hiasan di kamar gw. Jadi buat apa?

Mungkin kalau gw hidup di Jepang dengan penghasilan orang Jepang, gw akan sanggup ngikutin segala macam rilisannya mereka. Tapi ketika gw hidup di Indonesia? Gw akan lebih memilih untuk membeli sesuatu yang lebih gw prioritaskan dengan uang gw yg nggak terlalu banyak ini. Tapi, walaupun dengan gw jarang-jarang beli stuff ori, bukan berarti gw bukan fans kan?
Selama gw masih setia ngikutin perkembangan mereka, selama perasaan gw ke mereka sudah menuju taraf "sangat suka, "cinta" dan bukan sekedar "suka", gw akan tetap menganggap diri gw sebagai fans. Selama perasaan gw dalam mengagumi mereka masih dalam—sedalam lautan hindia #cuih—gw akan tetap merasa bahwa gw masih menggemari mereka.

Yah, gw bilang fans itu cuma wujud perasaan bukan berarti gw menyuruh orang buat nggak beli. Kalau ada uang dan nggak ada prioritas yang lebih penting, kenapa nggak? Sebisa mungkin belilah yang ori, jangan bajakan melulu. Ahahaha.

(Yang mungkin kalau untuk gw, pengaplikasian itu bakalan diwujudkan entah setelah gaji gw nyampe angka berapa juta. Ahahaha.)
Tags: